Website Adalah: Sejarah, Perkembangan Teknologi, Fungsi, dan Era Vibe Coding
Website adalah kumpulan halaman dan sumber daya digital yang saling terhubung, memiliki alamat tertentu, dan dapat diakses melalui peramban seperti Chrome, Firefox, Safari, atau Edge. Sebuah website dapat berisi teks, gambar, video, formulir, katalog, transaksi, hingga aplikasi bisnis yang bekerja langsung melalui internet.
Pengertian tersebut terlihat sederhana, tetapi kemampuan website sudah berkembang sangat jauh. Web yang awalnya dirancang untuk membantu para ilmuwan berbagi dokumen kini digunakan untuk mencari informasi, berkomunikasi, belajar, bekerja, berbelanja, melakukan pembayaran, memesan layanan, mengelola perusahaan, dan menjalankan kecerdasan buatan.
Artikel ini membahas sejarah website, teknologi website dari awal sampai sekarang, perubahan kegunaannya, keterampilan yang diperlukan untuk membuat website, serta hubungan antara website dan vibe coding. Pembahasannya dibuat untuk membantu pembaca memahami bukan hanya apa itu website, tetapi juga bagaimana website bekerja dan mengapa kualitas manusia tetap penting ketika AI dapat menghasilkan kode.
Website Adalah Bagian dari World Wide Web, Bukan Internet Itu Sendiri
Istilah website, web, dan internet sering dianggap sama, padahal ketiganya berbeda.
- Internet adalah jaringan global yang menghubungkan komputer dan perangkat.
- World Wide Web atau web adalah sistem dokumen dan sumber daya yang menggunakan internet serta dapat diakses melalui URL dan protokol web.
- Website adalah sekumpulan halaman atau sumber daya web yang biasanya berada di bawah satu domain, misalnya
kodingplus.com. - Halaman web adalah satu dokumen atau tampilan tertentu di dalam sebuah website.
Analogi sederhananya: internet dapat dibayangkan sebagai jaringan jalan, web sebagai salah satu sistem layanan yang menggunakan jalan tersebut, website sebagai sebuah lokasi, dan halaman web sebagai ruangan yang ada di dalamnya.
Website juga tidak selalu terbuka untuk umum. Website perusahaan dapat memiliki halaman publik sekaligus bagian privat, seperti dashboard staf, sistem pemesanan, laporan transaksi, atau portal pelanggan yang memerlukan autentikasi.
Sejarah Website: Berawal dari Kebutuhan Berbagi Informasi Ilmiah
World Wide Web diciptakan oleh Tim Berners-Lee ketika bekerja di CERN, organisasi riset fisika partikel Eropa. Menurut [CERN](https://home.cern/science/computing/the-birth-of-the-web/where-web-was-born/), web dirancang pada 1989 untuk menjawab kebutuhan pertukaran informasi secara otomatis antara ilmuwan di berbagai universitas dan lembaga di dunia.
Pada Maret 1989, Berners-Lee menulis proposal pertama tentang sistem informasi berbasis hypertext. Proposal tersebut kemudian diformalkan bersama Robert Cailliau pada November 1990. Gagasannya adalah membuat jaringan dokumen yang dapat dihubungkan dengan tautan dan dibuka menggunakan browser.
Untuk mewujudkannya, dikembangkan tiga fondasi penting yang masih digunakan sampai sekarang:
1. HTML, untuk menyusun dan memberi makna pada isi dokumen. 2. URL, untuk memberi alamat unik pada sumber daya. 3. HTTP, untuk mengatur pertukaran permintaan dan respons antara browser dan server.
Website pertama di dunia berada di komputer NeXT milik Berners-Lee di CERN. Isinya menjelaskan proyek World Wide Web, cara membuat server, dan cara menggunakan browser. Salinan yang direstorasi dapat dilihat melalui [situs website pertama CERN](http://info.cern.ch/).
Pada 30 April 1993, CERN menyediakan perangkat lunak World Wide Web agar dapat digunakan secara bebas. [CERN mencatat](https://home.cern/30-years-free-and-open-web/) bahwa keputusan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan web tumbuh secara terbuka dan digunakan secara luas.
Perjalanan Teknologi Website dari Awal sampai Sekarang
Perkembangan website tidak berlangsung dalam satu lompatan. Setiap periode menambahkan kemampuan baru di atas fondasi yang sudah ada.
1. Awal 1990-an: website berupa dokumen hypertext
Pada tahap awal, website umumnya berupa halaman teks dengan hyperlink. HTML digunakan untuk memberi struktur dasar seperti judul, paragraf, daftar, dan tautan. Interaksi masih sangat terbatas, sementara desain visual belum menjadi perhatian utama.
Kegunaan utamanya adalah menerbitkan dan menghubungkan informasi. Model ini sangat sesuai dengan tujuan awal web sebagai sarana pertukaran dokumen penelitian.
2. Pertengahan 1990-an: tampilan dan interaksi mulai berkembang
Ketika pengguna web bertambah, kebutuhan akan tampilan yang lebih teratur dan interaksi yang lebih baik ikut berkembang. CSS mulai digunakan untuk memisahkan presentasi visual dari struktur HTML. JavaScript menghadirkan perilaku interaktif di browser, seperti validasi formulir, perubahan elemen halaman, dan respons terhadap tindakan pengguna.
Pada 1994, Tim Berners-Lee mendirikan World Wide Web Consortium atau W3C. Organisasi ini mengembangkan standar dan pedoman agar web tetap dapat digunakan lintas perangkat dan platform. [W3C](https://www.w3.org/) saat ini juga menempatkan aksesibilitas, internasionalisasi, privasi, dan keamanan sebagai prinsip penting dalam pengembangan web.
3. Akhir 1990-an hingga 2000-an: website menjadi dinamis
Website statis menampilkan file yang isinya relatif tetap. Website dinamis dapat menyusun halaman berdasarkan data, akun pengguna, waktu, lokasi, atau permintaan tertentu.
Bahasa pemrograman sisi server seperti PHP, Java, ASP/ASP.NET, Python, dan Ruby memungkinkan logika dijalankan di server. Database seperti MySQL dan PostgreSQL digunakan untuk menyimpan produk, artikel, pelanggan, transaksi, serta data lainnya. Dari sinilah berkembang forum, portal berita, toko online, sistem keanggotaan, dan aplikasi administrasi berbasis web.
4. Era Web 2.0: pengguna ikut membuat dan membagikan konten
Istilah Web 2.0 biasa digunakan untuk menggambarkan perubahan dari halaman yang terutama dibaca menjadi layanan yang memungkinkan partisipasi pengguna. Blog, wiki, media sosial, kolaborasi daring, ulasan, komentar, serta berbagai platform berbasis komunitas tumbuh pesat.
Teknologi seperti AJAX memungkinkan browser bertukar data dengan server tanpa harus memuat ulang seluruh halaman. Hasilnya, pengalaman menggunakan website terasa semakin menyerupai aplikasi desktop.
Web 2.0 bukan versi resmi protokol web. Istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai perubahan pola penggunaan dan pengembangan web.
5. 2010-an: mobile, cloud, API, dan aplikasi web modern
Pertumbuhan smartphone membuat desain responsif menjadi kebutuhan. Satu website harus dapat menyesuaikan tampilan dan interaksi pada layar ponsel, tablet, laptop, dan desktop.
Framework dan library seperti Bootstrap, jQuery, React, Angular, dan Vue membantu pengembang membangun antarmuka secara lebih terstruktur. Di sisi server, framework seperti Laravel, CodeIgniter, Django, Ruby on Rails, ASP.NET, Spring, Express, dan berbagai teknologi lain mempercepat pengembangan aplikasi.
API memungkinkan website terhubung dengan layanan lain, misalnya payment gateway, peta, pengiriman, WhatsApp, sistem akuntansi, autentikasi, dan aplikasi mobile. Infrastruktur cloud, container, content delivery network (CDN), serta proses CI/CD juga mengubah cara website diuji, diterapkan, dan ditingkatkan kapasitasnya.
6. Website sekarang: platform bisnis, aplikasi, dan antarmuka AI
Website modern dapat berfungsi sebagai aplikasi lengkap. Browser menyediakan berbagai Web API untuk penyimpanan lokal, kamera, mikrofon, notifikasi, lokasi, grafis, komunikasi waktu nyata, serta fitur perangkat lainnya sesuai izin pengguna dan dukungan browser.
Progressive Web App atau PWA menggabungkan teknologi web dengan kemampuan seperti pemasangan ke layar utama dan dukungan penggunaan tertentu ketika jaringan tidak stabil. WebAssembly memungkinkan kode dari bahasa tertentu dijalankan di browser dengan performa yang sesuai untuk sejumlah pekerjaan komputasi berat.
AI kini juga menjadi bagian dari website. Pengguna dapat berinteraksi dengan chatbot, pencarian semantik, rekomendasi, penerjemahan, analisis dokumen, pembuatan konten, atau asisten kerja melalui antarmuka web.
Meskipun teknologi berubah, fondasi utamanya belum hilang. Dokumentasi [MDN Web Docs](https://developer.mozilla.org/en-US/docs/Web) tetap menempatkan HTML, CSS, JavaScript, dan Web API sebagai bagian inti teknologi web.
Perubahan Kegunaan Website: Dahulu dan Sekarang
Perbedaan utama website dahulu dan sekarang bukan hanya terletak pada desain, tetapi pada cakupan tugas yang dapat diselesaikannya.
| Periode | Kegunaan dominan |
|---|---|
| Awal web | Berbagi dokumen dan informasi penelitian |
| Web publik awal | Menerbitkan profil, direktori, dokumentasi, dan berita |
| Website dinamis | Mengelola konten, akun, forum, dan database |
| Web 2.0 | Kolaborasi, komunitas, media sosial, dan konten pengguna |
| Web mobile dan cloud | Transaksi, pemesanan, kerja jarak jauh, dan integrasi layanan |
| Web berbasis AI | Percakapan, otomatisasi, personalisasi, analisis, dan pembuatan konten |
Saat ini, website dapat digunakan untuk:
- membangun identitas dan kredibilitas bisnis;
- menyediakan informasi yang dapat ditemukan melalui mesin pencari;
- menampilkan produk, layanan, portofolio, dan testimoni;
- menerima pertanyaan, reservasi, pendaftaran, serta pembayaran;
- mengelola inventaris, pelanggan, staf, dan laporan;
- menjalankan toko online atau marketplace;
- menyediakan pendidikan dan layanan publik;
- menjadi portal pelanggan atau sistem internal perusahaan;
- menghubungkan berbagai sistem melalui API;
- menyediakan fitur AI yang dapat digunakan langsung melalui browser.
Karena kegunaannya luas, kebutuhan setiap bisnis tidak selalu sama. Sebuah usaha dapat cukup menggunakan landing page, sedangkan bisnis lain membutuhkan website company profile, toko online, sistem booking, atau aplikasi web khusus. Pembaca yang sedang menentukan bentuk produk digital dapat mempelajari [perbedaan website, landing page, dan aplikasi web](https://kodingplus.com/artikel/detail/perbedaan-website-landing-page-dan-aplikasi-web-mana-yang-cocok-untuk-bisnis-anda/4).
Bagaimana Website Bekerja?
Ketika pengguna mengetik alamat website atau membuka sebuah tautan, proses sederhananya sebagai berikut:
1. Browser membaca nama domain yang diminta. 2. DNS membantu menemukan alamat server yang berhubungan dengan domain tersebut. 3. Browser mengirim permintaan melalui HTTP atau HTTPS. 4. Web server menerima dan memproses permintaan. 5. Untuk website dinamis, aplikasi dapat menjalankan logika dan membaca atau memperbarui database. 6. Server mengirim respons berupa HTML, CSS, JavaScript, gambar, JSON, atau sumber daya lain. 7. Browser memproses sumber daya tersebut dan menampilkan halaman kepada pengguna.
HTTPS menggunakan TLS untuk melindungi data selama perjalanan antara browser dan server. Namun, penggunaan HTTPS saja tidak otomatis membuat aplikasi aman. Keamanan juga bergantung pada autentikasi, pengaturan hak akses, validasi input, pengelolaan sesi, konfigurasi server, pembaruan dependensi, perlindungan data, dan pengujian.
Teknologi yang Harus Dikuasai untuk Membuat Website
Tidak ada satu daftar teknologi yang wajib untuk semua proyek. Website sederhana dan aplikasi transaksi berskala besar memiliki kebutuhan berbeda. Namun, seorang web developer perlu memahami beberapa lapisan berikut.
1. HTML: struktur dan makna konten
HTML adalah fondasi halaman web. Menurut [MDN](https://developer.mozilla.org/en-US/docs/Web/HTML), HTML mendefinisikan makna dan struktur konten. Pengembang perlu memahami elemen semantik, heading, tautan, gambar, tabel, formulir, metadata, serta struktur dokumen yang baik.
HTML semantik membantu browser, mesin pencari, dan teknologi bantu memahami isi halaman. Karena itu, HTML bukan hanya urusan membuat sesuatu terlihat di layar.
2. CSS: tampilan dan tata letak
CSS mengatur warna, tipografi, jarak, ukuran, posisi, animasi, dan penyesuaian tampilan pada berbagai ukuran layar. Materi pentingnya meliputi box model, selector, cascade, specificity, Flexbox, Grid, responsive design, dan media query.
Framework seperti Bootstrap atau Tailwind CSS dapat mempercepat pekerjaan, tetapi pemahaman CSS dasar tetap dibutuhkan untuk memperbaiki masalah tampilan dan membuat desain yang konsisten.
3. JavaScript: interaksi dan logika di browser
JavaScript digunakan untuk membuat website interaktif, mengolah input, memanggil API, memperbarui tampilan, serta mengelola logika di sisi pengguna. Dasar yang perlu dipahami antara lain tipe data, fungsi, objek, array, DOM, event, module, Promise, async/await, fetch, dan penanganan error.
Framework front-end berguna untuk kebutuhan tertentu, tetapi bukan pengganti pemahaman JavaScript.
4. Back-end dan database
Website yang memerlukan login, dashboard, transaksi, atau pengelolaan konten biasanya membutuhkan back-end. Pengembang dapat memilih PHP, JavaScript/TypeScript dengan Node.js, Python, C#, Java, Go, Ruby, atau bahasa lain sesuai kebutuhan dan kemampuan tim.
Konsep yang lebih penting daripada sekadar memilih bahasa meliputi:
- routing dan arsitektur aplikasi;
- autentikasi dan otorisasi;
- validasi data;
- session, cookie, dan token;
- pembuatan API;
- pengiriman email dan notifikasi;
- transaksi database;
- logging serta penanganan error.
Untuk database, pengembang perlu memahami desain tabel, relasi, indeks, query, transaksi, migrasi, dan backup. MySQL, MariaDB, PostgreSQL, SQLite, serta database NoSQL mempunyai penggunaan dan karakteristik masing-masing.
5. HTTP, domain, DNS, server, dan deployment
Website tidak selesai ketika dapat berjalan di komputer pengembang. Pengembang perlu mengetahui request dan response HTTP, status code, header, caching, cookie, CORS, HTTPS, domain, DNS, web server, environment variable, proses deployment, backup, monitoring, dan pemulihan ketika terjadi gangguan.
Git juga penting untuk mencatat perubahan kode, melakukan kolaborasi, meninjau perbedaan versi, dan mengembalikan perubahan secara terkontrol.
6. UI/UX dan desain responsif
Website yang benar secara teknis belum tentu mudah digunakan. Pengembang perlu memahami hierarki informasi, navigasi, konsistensi komponen, keterbacaan, formulir, pesan error, call to action, serta alur pengguna.
Desain responsif tidak berarti sekadar mengecilkan tampilan desktop. Struktur, ukuran tombol, jarak, menu, tabel, formulir, dan performa perlu diuji pada perangkat yang berbeda.
7. Aksesibilitas, performa, SEO, dan keamanan
Website profesional perlu dapat digunakan oleh lebih banyak orang, dimuat dengan efisien, dapat dipahami mesin pencari, dan melindungi data pengguna.
- Aksesibilitas: gunakan HTML semantik, label formulir, navigasi keyboard, kontras yang cukup, serta teks alternatif gambar. Panduan [web.dev tentang aksesibilitas](https://web.dev/accessibility) menekankan pengalaman yang bermakna dan setara bagi pengguna dengan disabilitas.
- Performa: optimalkan gambar, font, JavaScript, cache, dan respons server. [Web Vitals](https://web.dev/articles/vitals) menyediakan panduan sinyal kualitas pengalaman pengguna.
- SEO teknis: perhatikan struktur heading, title, meta description, canonical, URL, internal link, sitemap, robots, structured data, mobile usability, dan kualitas isi.
- Keamanan: terapkan validasi, kontrol akses, pengelolaan kredensial, perlindungan sesi, pembaruan dependensi, dan pengujian. [OWASP Top 10](https://owasp.org/www-project-top-ten/) merupakan dokumen kesadaran awal mengenai risiko keamanan aplikasi web yang penting bagi developer.
Apakah satu orang harus menguasai semuanya?
Tidak harus menjadi pakar di seluruh bidang. Front-end developer dapat berfokus pada antarmuka, back-end developer pada logika dan data, sementara DevOps, UI/UX designer, SEO specialist, QA, dan security specialist menangani bidang masing-masing.
Namun, developer yang membuat website secara mandiri tetap perlu memahami hubungan antarbagian. Pemahaman ini membantu memilih teknologi, memeriksa hasil, mencari penyebab masalah, dan menghindari ketergantungan buta pada framework maupun AI.
Apa Itu Vibe Coding?
Istilah vibe coding diperkenalkan oleh Andrej Karpathy pada Februari 2025. Dalam [unggahannya](https://x.com/karpathy/status/1886192184808149383), ia menggambarkan cara membuat program dengan memberi instruksi bahasa alami kepada model AI, menjalankan hasilnya, lalu terus memberikan umpan balik berdasarkan apa yang terlihat atau error yang muncul—bahkan tanpa selalu membaca dan memahami seluruh perubahan kode.
Karena penggunaan istilah ini semakin luas, maknanya sering bercampur dengan AI-assisted coding. Keduanya perlu dibedakan:
- AI-assisted coding: AI membantu menulis, menjelaskan, menguji, atau memperbaiki kode, sementara developer tetap meninjau dan memahami hasilnya.
- Vibe coding dalam pengertian awalnya: pengguna lebih berfokus pada hasil dan percakapan dengan AI, serta dapat menerima kode tanpa memahami seluruh implementasinya.
AI dapat membantu menghasilkan struktur halaman, komponen, query, fungsi, pengujian, dokumentasi, dan konfigurasi. Artinya, hambatan dari ide menuju prototipe website menjadi lebih rendah.
Hubungan Vibe Coding dengan Website Sekarang
Website menjadi salah satu media paling cocok untuk vibe coding karena hasil perubahan dapat segera dilihat di browser. Pengguna dapat meminta AI untuk membuat halaman, menjalankannya, melihat masalah, lalu memberi instruksi seperti “buat tombol lebih jelas”, “tambahkan formulir”, atau “perbaiki tampilan mobile”. Siklus umpan balik visual ini relatif cepat.
Vibe coding bermanfaat untuk:
- membuat prototipe dan proof of concept;
- mengeksplorasi ide desain atau alur pengguna;
- membuat website personal atau alat internal berisiko rendah;
- menghasilkan kerangka awal dan kode berulang;
- membantu developer mempelajari API atau teknologi baru;
- mempercepat dokumentasi, pengujian awal, dan refactoring terarah.
Namun, website produksi tidak cukup dinilai dari tampilannya. Sebuah halaman dapat terlihat baik sambil menyimpan masalah di balik layar, misalnya:
- autentikasi yang dapat dilewati;
- otorisasi yang salah sehingga data pengguna lain dapat diakses;
- input yang tidak divalidasi;
- rahasia API tersimpan di kode front-end;
- query database tidak aman;
- dependensi bermasalah;
- aksesibilitas buruk;
- loading lambat;
- proses pembayaran atau pencatatan transaksi tidak konsisten;
- perubahan kode merusak fitur yang sebelumnya berjalan.
Risiko meningkat pada website yang menyimpan data pribadi, menerima pembayaran, mengatur hak akses, atau terhubung ke sistem bisnis. Dalam proyek seperti ini, kode yang dihasilkan AI harus diperlakukan sebagai usulan yang perlu ditinjau, diuji, dan dipertanggungjawabkan—bukan sebagai hasil yang otomatis benar.
Cara Menggunakan AI untuk Membuat Website secara Bertanggung Jawab
Vibe coding tidak harus ditolak, tetapi perlu ditempatkan sesuai tingkat risiko proyek. Pendekatan yang lebih aman adalah:
1. Tentukan kebutuhan dan kriteria selesai. Jelaskan pengguna, fitur, data, batasan, serta perilaku yang diharapkan sebelum meminta AI menulis kode. 2. Mulai dari bagian kecil. Perubahan kecil lebih mudah dipahami, diuji, dan dibatalkan dibanding satu instruksi yang menghasilkan banyak file sekaligus. 3. Minta penjelasan arsitektur dan asumsi. Developer perlu mengetahui bagaimana data mengalir, di mana validasi dilakukan, dan komponen apa yang dipercaya. 4. Tinjau perubahan kode. Jangan hanya melihat halaman di browser. Periksa diff, query, autentikasi, hak akses, error handling, dependensi, dan konfigurasi. 5. Gunakan version control. Buat commit yang terarah agar perubahan dapat ditelusuri dan dipulihkan. 6. Lakukan pengujian. Uji fungsi normal, input salah, hak akses, perangkat berbeda, performa, aksesibilitas, dan skenario kegagalan. 7. Jangan memberikan rahasia kepada AI. Hindari memasukkan password, private key, data pelanggan, token produksi, dan informasi sensitif ke prompt. 8. Gunakan dokumentasi resmi sebagai acuan. AI dapat menghasilkan API, sintaks, atau praktik yang sudah usang maupun tidak tepat. 9. Lakukan pemeriksaan keamanan sebelum produksi. Semakin sensitif data dan fungsi website, semakin ketat proses review yang diperlukan. 10. Pastikan ada manusia yang bertanggung jawab. Pemilik produk atau developer harus memahami konsekuensi keputusan teknis dan operasional.
AI mengubah cara kode ditulis, tetapi tidak menghapus kebutuhan akan pemahaman masalah, desain sistem, validasi, pengujian, keamanan, dan pemeliharaan. Pekerjaan manusia bergeser dari hanya mengetik kode menuju memberi spesifikasi, memilih solusi, menilai hasil, dan menjaga kualitas.
Apakah Masih Perlu Belajar Coding di Era Vibe Coding?
Ya, terutama jika website digunakan untuk bisnis atau menangani data pengguna. Pemahaman HTML, CSS, JavaScript, HTTP, database, keamanan, dan deployment membuat seseorang mampu:
- menulis instruksi AI yang lebih tepat;
- mengetahui ketika solusi AI tidak sesuai kebutuhan;
- mencari penyebab bug secara sistematis;
- menilai keamanan dan performa;
- mengintegrasikan sistem secara benar;
- merawat website setelah diluncurkan;
- memperkirakan risiko, biaya, serta konsekuensi perubahan.
Orang tanpa latar belakang coding tetap dapat menggunakan AI untuk membuat eksperimen dan prototipe. Akan tetapi, tingkat kebebasan membuat sesuatu harus dibarengi dengan pemahaman tingkat risiko. Prototipe pribadi tidak dapat diperlakukan sama dengan toko online, sistem keuangan, aplikasi kesehatan, atau portal perusahaan.
Keyword Pendukung yang Relevan
Agar artikel tetap alami dan menjangkau beberapa maksud pencarian yang berhubungan, keyword pendukung yang dapat digunakan antara lain:
- apa itu website;
- pengertian website;
- sejarah website;
- sejarah perkembangan website;
- fungsi website;
- kegunaan website;
- teknologi website;
- cara kerja website;
- komponen website;
- bahasa pemrograman website;
- teknologi untuk membuat website;
- cara membuat website;
- web development adalah;
- front end dan back end;
- website modern;
- website untuk bisnis;
- AI untuk membuat website;
- apa itu vibe coding;
- vibe coding website;
- AI coding untuk web developer.
Keyword tersebut sebaiknya tidak dipaksakan berulang kali. Mesin pencari dan pembaca lebih terbantu oleh struktur yang jelas, jawaban yang lengkap, contoh yang relevan, sumber tepercaya, serta internal link yang sesuai konteks.
Kesimpulan
Website adalah kumpulan halaman dan sumber daya digital yang dapat diakses melalui browser menggunakan sebuah alamat web. Sejarahnya bermula dari kebutuhan para ilmuwan untuk berbagi informasi, lalu berkembang menjadi fondasi komunikasi, transaksi, kolaborasi, layanan publik, dan operasional bisnis modern.
Teknologinya juga terus berkembang. HTML, URL, dan HTTP menjadi fondasi awal; CSS dan JavaScript memperkaya tampilan serta interaksi; back-end dan database menghadirkan website dinamis; API, cloud, mobile, PWA, WebAssembly, dan AI memperluas kemampuannya.
Vibe coding mempercepat pembuatan prototipe dan membantu lebih banyak orang mengubah gagasan menjadi website. Namun, kemampuan AI menghasilkan kode tidak menjamin kode tersebut aman, benar, cepat, mudah diakses, atau siap digunakan untuk bisnis. Website profesional tetap membutuhkan kebutuhan yang jelas, keputusan teknologi yang tepat, review, pengujian, keamanan, deployment, dan pemeliharaan.
Jika bisnis memerlukan website yang dirancang berdasarkan tujuan, pengguna, konten, integrasi, dan kebutuhan operasionalnya, pelajari layanan [jasa pembuatan website di Bali](https://kodingplus.com/jasa-pembuatan-website-di-bali) dari KodingPlus.
Sumber Referensi
- CERN, [The Birth of the Web](https://home.cern/science/computing/the-birth-of-the-web/).
- CERN, [Where the Web Was Born](https://home.cern/science/computing/the-birth-of-the-web/where-web-was-born/).
- CERN, [30 Years of a Free and Open Web](https://home.cern/30-years-free-and-open-web/).
- World Wide Web Consortium, [W3C](https://www.w3.org/).
- MDN Web Docs, [Web Technology for Developers](https://developer.mozilla.org/en-US/docs/Web).
- MDN Web Docs, [HTML: HyperText Markup Language](https://developer.mozilla.org/en-US/docs/Web/HTML).
- web.dev, [Learn Web Development](https://web.dev/learn/).
- web.dev, [Web Vitals](https://web.dev/articles/vitals).
- OWASP, [OWASP Top 10](https://owasp.org/www-project-top-ten/).
- Andrej Karpathy, [unggahan awal mengenai vibe coding](https://x.com/karpathy/status/1886192184808149383).



